Kamis, 17 November 2011

PROFIL

PROFIL
PERPUSTAKAAN
Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri
(STAKN) Toraja


Nama
Unit Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Toraja, kode perpustakaan SNUNRPA
Alamat
Jl.Poros Makale – Makassar KM 11,5 Tlp/Fax 0423-24620, 24064, Kecamatan Mengkendek 91871 Kabupaten Tana Toraja
Kepala dan kontak person
Andarias Manting, S.Th. NIP.197103042007011034
HP.085299833197, e-mail:amanting2002@yahoo.co.uk

Pendirian
Unit Perpustakaan STAKN Toraja adalah salah satu Unit Kerja STAKN Toraja dan STAKN Toraja, berdiri berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 2004 yaitu tentang pendirian Sekolah Tinggi Agama Kristen Palangkaraya dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja.
 Visi
Menjadi Perpustakaan Perguruan Tinggi Kristen yang terkemuka yang selalu mengutamakan pelayanan dan akses informasi dan Pendidikan.


 Misi
1.melakukan kegiatan perpustakaan yang terbaik
   mengutamakan  pelayanan kepada mahasiswa dan masyarakat
   pengguna,
2.memberikan pelayanan kepada pemustaka layanan koleksi/referensi,
3.memberikan layanan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka
4.memberikan manfaat akademik dan ilmiah yang optimal
   kepada pemustaka dan peneliti.

Personil
1.Andarias Manting, S.Th.
2.Yulius Paembonan
3.Mariana Surpiati, S.Th
4.Abraham Rano Pasolon





Struktur



















Program Aplikasi

New Spektra 3.5.2 yang terdiri dari 4 Modul:
1.Modul Pengolahan
2.Modul Sirkulasi
3.Modul Pengolahan Digitalisasi
4.Modul Katalog
Catatan:
Sementara dalam proses migra ke aplikasi baru yaitu IBRA 5, dan pembelian Komputer Server juga masih dalam proses.


Sistem Layanan
Unit Perpustakaan STAKN Toraja, melayani dengan sistem tertutup, yaitu pemustaka tidak perkenankan langsung ke rak mengambil koleksi, tetapi melalui petugas sirkulasi.



Keunggulan
Buku-buku teks dibagi dua dalam kelompok layanan, yaitu dari
setiap judul, dialokasikan 2 atau 3 eksemplar sebagai Tandon (persediaan tetap di perpustakaan) dan   eksemplar yang diluar tandon itu yang dapat dipinjam pemustaka sesuai ketentuan jangka waktu pinjaman sebagaimana yang diatur dalam Tata Tertib Perpustakaan.

Perpustakaan STAKN Toraja memiliki satu set (60 jilid) Encyclopedia Britanica,

Pengolahan
Unit yang mengolah koleksi sebelum digunakan oleh pemustaka, yaitu:mengklasifikasi, menentukan subyek buku, menginput ke dalam database, memberikan Nomor Induk Buku pada semua eksemplar dan kelengkapan atribut lainnya untuk setiap buku.

Sirkulasi
Melayani anggota perpustakaan dalam meminjam buku dan mengembalikan buku pinjaman, membantu pemustaka jika ada yang belum mengetahui menggunakan catalog elektronik dan menyurati anggota yang lambat mengembalikan pinjaman.


Layanan Referensi
Membimbing dan membantu pemustaka jika ada yang kesulitan dalam memakai referensi, serta membantu mencari informasi yang pemustaka cari.


Jam Layanan
Jam Layanan
Hari
Persiapan
Sesi I
Istirahat
Sesi II
Senin - Kamis
07.30-08.00
08.00 -12.00
12.00 – 13.00
13.00 – 16.00
Jumat
07.30-08.00
08.00 -12.00
12.00 – 13.30
13.30 – 16.30
Sabtu
tutup






Jenis Koleksi
1.Karya Umum,
2.Ilmu Filsafat,
3.Agama, (yang diutamakan)
4.Bahasa,
5.Ilmu-ilmu Murni,
6.Teknologi,
7.Kesenian,
8.Kesusasteraan ,
9.Geografi dan Sejarah Umum









Data Koleksi
Data Koleksi
Koleksi
Judul
Eksemplar
Buku Teks
1431
12706
Referensi
222
519
Jurnal
32
178
Tugas Akhir Mahasiswa
646
863
Karya Ilmiah (Penelitian Dosen)
18
18
Total
2349
14284

Koleksi Tandon
(Persediaan tetap di perpustakaan)
Koleksi
Judul
Eksemplar
Tandon
1686
3621

Catatan: data per 30 Juni 2011




 Fasilitas
1.Luas ruangan 12 x 11 = 132m2
2.Komputer 9 Unit
3.Meja baca
4.Kursi
5.AC (belum tersedia)
Catatan:Sementara ada pembangunan gedung baru yang berlantai dua, sedang dalam tahap pertama pembangunan, tahun 2012 tahap kedua, semoga tahun 2013 sudah dapat digunakan.




Minggu, 13 November 2011

Penyelenggaraan Perpustakaan Perguruan Tinggi: Menghadapi Era Teknologi Informasi

Oleh:
Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc.
Pustakawan Utama di Perpustakaan IPB
Pendahuluan
“Perpustakaan di perguruan tinggi diibaratkan sebagai jantung dari perguruan tinggi tersebut. Karena itu perpustakaan di perguruan tinggi mempunyai kedudukan yang sangat penting”. Pernyataan ini disampaikan oleh pejabat tinggi di lingkungan Kementrian Pendidikan Nasional (dahulu Departemen Pendidikan Nasional) pada kesempatan membuka sebuah pertemuan ilmiah para pustakawan beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun kemudian pernyataan ini diperkuat melalui Undang-undang Perpustakaan dengan pembukaan yang berbunyi “bahwa dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam” (Pembukaan Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan).
Sejak tahun 2007 peran perpustakaan memang mulai diperhitungkan yaitu dengan diterbitkannya Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Sebegitu pentingnya hingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) berinisiatif mengusulkan agar penyelenggaraan perpustakaan diatur dengan undang-undang. Di perguruan tinggi sendiri sebenarnya sejak lama perpustakaan dianggap sebagai jantung dari suatu perguruan tinggi. Perpustakaan di perguruan tinggi mempunyai fungsi sangat strategis dalam menunjang terlaksananya tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Fungsi utama dari perpustakaan perguruan tinggi adalah menyediakan fasilitas untuk studi dan penelitian bagi sivitas akademika perguruan tinggi induknya. Namun demikian, suatu kenyataan bahwa pada umumnya pemanfaatan perpustakaan masih sangat rendah. Mengapa demikian? Barangkali penyelenggaraan perpustakaan di perguruan tinggi yang perlu dievaluasi dan diperbaiki.
Perguruan Tinggi
Menurut Wikipedia, Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen. Perguruan tinggi ini menurut UU Sisdiknas merupakan penyelenggara dengan definisi sebagai berikut: “Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan mengengah yang mencakup program diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi (pasal 19 ayat 1 UU 20 tahun 2003). Menurut jenisnya, perguruan tinggi dibagi menjadi dua:
• Perguruan tinggi negeri adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh negara.
• Perguruan tinggi swasta adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh swasta.

Di Indonesia, perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, institut, politeknik, sekolah tinggi, dan universitas. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, dan vokasi dengan program pendidikan diploma (D1, D2, D3, D4), sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3), dan spesialis. Setiap perguruan tinggi wajib menyelenggarakan perpustakaan dengan standar yang ditentukan secara nasional (pasal 24 UU 43/2007).
Perpustakaan Perguruan Tinggi
Perpustakaan adalah institusi yang selalu berkembang. Perkembangan perpustakaan yang paling mutakhir adalah dengan disahkannya Undang-undang Perpustakaan nomor 43 tahun 2007. Terbitnya UU 43/2007 ini menjadi amunisi baru bagi pengembangan segala jenis perpustakaan di Indonesia yaitu dengan menjadikan UU ini sebagai landasan. Bagi perpustakaan perguruan tinggi definisi perpustakaan yang ada pada UU 43/2007 sangat relevan yaitu sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Sedangkan yang dikelola oleh perpustakaan antara lain adalah koleksi perpustakaan yang terdiri dari semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan untuk pemustaka.
Bagi perguruan tinggi perpustakaan sering disebut sebagai jantung dari sebuah perguruan tinggi, oleh karena itu UU ini mewajibkan setiap perguruan tinggi untuk menyelenggarakan perpustakaan (pasal 24 ayat 1) dengan jumlah koleksi yang mencukupi untuk mendukung pelaksanaan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (pasal 24 ayat 2). Untuk memenuhi kecukupan koleksi ini secara tegas memang belum dikeluarkan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan standar kecukupan koleksi perpustakaan. Namun, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 1994 pernah menerbitkan ”Pedoman Penyelenggaraan Perguruan Tinggi” yang memuat rambu-rambu kecukupan koleksi perpustakaan perguruan tinggi. Menurut Pedoman tersebut setiap mata kuliah keahlian sekurang-kurangnya disediakan dua judul buku wajib dengan jumlah eksemplar sebanyak 10 % dari jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah yang bersangkutan. Sedangkan untuk mata kuliah dasar umum dan mata kuliah dasar keahlian sekurang-kurangnya harus disediakan satu judul buku wajib dengan jumlah eksemplar sebanyak 10 % dari mahasiswa yang mendapatkan mata kuliah tersebut.
Sedangkan ‘Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi’ edisi ketiga yang juga dikeluarkan oleh DIKTI, mengatakan bahwa : “Perpustakaan perguruan tinggi wajib menyediakan 80% dari bahan bacaan wajib mata kuliah yang ditawarkan di perguruan tinggi. Masing-masing judul bahan bacaan tersebut disediakan 3 eksemplar untuk tiap 100 mahasiswa”. Jumlah yang dipersyaratkan ini sangat minimal. Padahal untuk mencapai suatu kualitas internasional, koleksi yang harus dimiliki oleh perpustakaan perguruan tinggi setidak-tidaknya 50 eksemplar koleksi untuk setiap satu orang mahasiswa. Sebagai referensi kita bisa melihat rasio koleksi terhadap mahasiswa di beberapa universitas di negara maju seperti berikut:
No. Universitas Rasio Koleksi/mahasiswa
1. Tokyo University 302,52
2. Keio University 93,10
3. Waseda University 77,71
4. Rata-rata Universitas di Singapore 92,00
5. Rata-rata Universitas di Malaysia 55,22

Menurut sebuah situs internet (http://octa05.wordpress.com/kebijakan-pengembangan-koleksi/) persoalan koleksi seharusnya tidak hanya menyangkut kuantitas, tapi juga kualitas. Karena itu, perpustakaan hendaknya tidak asal dalam melakukan pengadaan koleksi. Jumlah koleksi sebuah perpustakaan perguruan tinggi sebenarnya bukan menjadi tolok ukur yang paling utama bagi idealnya sebuah perpustakaan perguruan tinggi. Namun jumlah koleksi tersebut harus juga dibarengi dengan relevansi koleksi tersebut dengan kebutuhan pemustakanya. Relevansi koleksi dengan kebutuhan informasi di lingkungan perguruan tinggi adalah sebuah desain konseptual yang mengarah pada terbentuknya koleksi inti (core collection).
Tentu saja rasio koleksi terhadap mahasiswa ini bukan satu-satunya ukuran yang menentukan kualitas sebuah perpustakaan, sebab dengan kemajuan teknologi saat ini buku dan jurnal elektronik dapat diakses via internet. Secara tegas UU 43/2007 mengamanatkan agar layanan perpustakaan di perguruan tinggi dikembangkan menjadi layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (pasal 24 ayat 3). Untuk itu perpustakaan harus menyediakan fasilitas akses ke internet seperti perangkat keras, perangkat lunak dan jaringan dalam jumlah yang memadai.
Sebagai referensi di Malaysia sebuah college harus menyediakan sekurang-kurangnya satu unit komputer untuk setiap 100 orang mahasiswa (standard untuk perpustakaan kolej swasta Malaysia). Koleksi dan fasilitas seperti di atas tentu saja berimplikasi terhadap kebutuhan gedung dan/atau ruangan. Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi menyebutkan kebutuhan ruangan bagi perpustakaan perguruan tinggi adalah setengah meter persegi untuk setiap mahasiswa. Jadi untuk perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa 20.000 orang, setidak-tidaknya membutuhkan ruangan sebesar 10.000 meter persegi. Sedangkan standar untuk perpustakaan college di Canada menyatakan bahwa setiap 10 mahasiswa harus disediakan satu kursi di perpustakaan. Ini berarti bahwa suatu perguruan tinggi yang memiliki mahasiswa 20.000 orang harus tersedia kursi (seat) sebanyak 2.000 tempat duduk.
Pengaruh Teknologi terhadap Penyelenggaraan Perpustakaan
Pada paruh kedua abad 20 yang lalu terjadi perkembangan yang sangat luar biasa di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan IPTEK ini ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology/ICT), terutama sekali pada dasa warsa 90an. Perkembangan ini sangat berpengaruh terhadap aspek kehidupan manusia tak terkecuali di perpustakaan. Kemajuan ini membawa perubahan-perubahan pada layanan perpustakaan sehingga kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi, harus diterima di perpustakaan. Teknologi ini memang menjanjikan kecepatan, yang merupakan salah satu faktor yang saat ini sangat dituntut dalam pengelolaan informasi. Program otomasi perpustakaan mulai menjadi trend perkembangan perpustakaan di Indonesia. Walaupun demikian belum semua jenis perpustakaan menerapkan otomasi pepustakaan, apalagi perpustakaan digital. Bagi sebagian besar perpustakaan perguruan tinggi, otomasi perpustakaan dan perpustakaan digital sudah bukan merupakan barang baru. Namun bagi banyak perpustakaan lain cita-cita menerapkan otomasi perpustakaan, apalagi perpustakaan digital masih belum bisa terealisasi. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, menurut Unesco banyak perpustakaan di negara-negara Asia yang belum memanfaatkan ICT untuk pengelolaan perpustakaannya, hal ini disebabkan pustakawan belum bisa meyakinkan atasannya untuk mendapatkan dana bagi pengembangan ICT di perpustakaan. Istilah otomasi perpustakaan dan perpustakaan digital juga masih belum menjadi istilah yang akrab bagi banyak pustakawan, bahkan banyak yang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan otomasi perpustakaan, dan apa pula yang dimaksud dengan perpustakaan digital. Mereka banyak mencampur adukkan antara otomasi perpustakaan dan perpustakaan digital.
Sejak tahun 1980an banyak perpustakaan yang sudah menerapkan otomasi perpustakaan dalam melayani pemakainya. Perkembangan ini terus berlanjut hingga kini. Kita dapat menyaksikan banyak perpustakaan saat ini yang dapat diakses dari beberapa lokasi (multiple locations), informasi dapat diakses bahkan masih dalam bentuk ”setengah jadi”, dan makin berkurangnya peran perantara informasi (information intermediaries). Semua kecenderungan ini dimungkinkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa aspek yang telah terjadi karena pengaruh perkembangan TIK adalah:
Akses informasi dari sebarang tempat: Hasil signifikan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah kemudahan dan kenyamanan akses informasi bagi para pemakai perpustakaan. Sebelum adanya OPAC maka pemakai perpustakaan harus datang ke sebuah perpustakaan untuk mengetahui apakah perpustakaan tersebut memiliki koleksi yang dibutuhkannya. Bahkan kadang-kadang pemakai tersebut harus berkeliling ke beberapa perpustakaan untuk memenuhi kebutuhannya. Sekarang, pemakai tinggal duduk manis di depan komputer dan dapat mencari informasi yang dibutuhkannya tanpa harus beranjak dari tempat duduknya.
Ketersediaan sumberdaya informasi yang makin bervariasi: Selama bertahun-tahun otomasi perpustakaan dianggap sebagai salah satu cara menyebarkan data bibliografi (misalnya dalam bentuk katalog online). Namun belakangan layanan ini telah berkembang menjadi tidak hanya layanan bibliografi saja, melainkan juga layanan indeks dan abstraks. Beberapa perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi, menyediakan layanan teks lengkap baik yang berasal dari dokumen-dokumen yang komersial (seperti buku elektronik, jurnal elektronik, dll.), maupun dari dokumen muatan lokal (local contents, seperti skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian dll.).
Menjadikan informasi tersedia dalam bentuk yang lebih asli: Informasi dalam bentuk digital yang disampaikan kepada pemustaka terus berkembang. Jika dulu kita menganggap bahwa bibliografi merupakan bentuk representasi dari informasi asli dari buku atau artikel jurnal, maka sekarang informasi yang sampai kepada para pemustaka tersebut bukan lagi bentuk representasinya, melainkan sudah dalam bentuk informasi aslinya yaitu dalam bentuk teks lengkap digital (e-books, e-article dal lain-lain).
Semakin menghilangnya peran perantara informasi (intermediaries): Keberhasilan otomasi perpustakaan menyebabkan semakin meningkatnya interaksi antara pemakai perpustakaan dengan sistem komputer (online), dan semakin berkurangnya intensitas hubungan antara pemakai dengan pustakawan atau staf perpustakaan. Dengan sistem yang dibuat sekarang ini pemakai yang ingin mengetahui status peminjamannya tidak lagi perlu bertanya kepada bagian sirkulasi di perpustakaan, namun cukup dengan mengakses langsung ke server perpustakaan melalui komputer pribadinya. Pemesanan buku yang akan dipinjam (reservasi) juga dapat dilakukan tanpa berhubungan dengan bagian sirkulasi, dan masih banyak lagi fasilitas yang ditawarkan oleh perpustakaan tanpa campur tangan pustakawan secara langsung.
Secara lebih rinci para pakar perpustakaan dan informasi meramalkan bahwa Perpustakaan Masa Depan akan:
1. Menjadi Digital
2. Melakukan Jaringan
3. Memiliki koleksi multimedia
4. Mengakses informasi global
5. Menjadi virtual
6. Kekurangan sumberdaya. Ketergantungan akan sistem menjadi mutlak. Sering terjadi ketika pembaharuan sistem yang dipakai ternyata terlalu cepat bagi perpustakaan
7. Perubahan pola organisasi. Dengan berubahnya alur kerja berdasarkan konsepsi otomasi, dituntut perubahan pola atau struktur organisasi
8. Dampak pada staf. Seringkali ada penolakan staf perpustakaan terhadap sistem otomasi.
Masalah yang dihadapi oleh Perpustakaan
Dalam memasuki abad 21 dengan segala kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang telah terjadi, maka perpustakaan menghadapi masalah-masalah seperti antara lain:
1.Pustakawan mengembangkan peranannya dari manager informasi dan navigator informasi 
    menjadi pendidik.
2.Pustakawan memiliki pengertian dan keterampilan untuk ikut sebagai patner didalam pendidikan (khususnya di sekolah dan universitas) dengan kolega staf pengajar.
3.Memupuk integrasi membaca informasi kedalam kurikulum universitas (information skill), sebagai kunci dalam belajar sepanjang masa (lifelong learning). Orang yang dapat membaca informasi mengenal kebutuhan akan informasi, dan tahu cara mengenal informasi, menguji, mengatur, mengevalusi secara kritis dan menerapkan informasi yang diperlukan.
4.Memaksimalkan cara mengakses, latihan dan penggunaan sumber informasi elektronik.
5.Memaksimalkan kerja sama dari tingkat lokal, nasional dan internasional untuk melayani pemustakanya (pengguna perpustakaan).
6.Perlunya memperhatikan meningkatnya permintaan akan layanan informasi dan sumber-sumber yang tidak mendapat dana.
7.Perlunya memperhatikan tingginya biaya dan keterbatasan biaya dalam penggunaan sumber-sumber eletronik.
8.Perlunya memperhatikan perkiraan anggaran belanja perpustakaan.
9.Perlunya melobby pimpinan universitas tentang kebutuhan dana, dan staf perpustakaan yang memadai, yang merupakan investasi utama untuk memperoleh koleksi perpustakaan yang lebih bermutu.
10.Internet merupakan alat yang berguna untuk perdagangan dan komunikasi. Sumber informasi yang diperoleh lewat internet yang bebas biaya umumnya kurang dapat dipertanggung jawabkan dan kurang berharga. Internet bukanlah pengganti perpustakaan dengan para ahlinya yang dapat mengenal dan mengatur sumber informasi yang beragam bentuknya, seperti informasi tercetak dan informasi terekan, dan membantu kliennya sebagai navigator penggunaan informasi elektronik yang komplek.

Pustakawan masa depan akan melayani pemustaka dengan tiga cara (Montanelli & Stenstrom, 1999) yaitu:
1. Dengan merancang dan meningkatkan sistem yang memungkinkan pemustaka dapat mengakses sebanyak mungkin informasi dan pengetahuan.
2. Dengan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada pemustaka berinteraksi secara langsung kepada koleksi dan sumber informasi menggunakan suatu sistem.
3. Dengan menyediakan diri sebagai pemandu, navigator, tempat konsultasi, dan teman ketika peran tersebut diperlukan oleh pemustaka.
Konsep Pengembangan Perpustakaan 2.0.
Konsep Perpustakaan 2.0 atau Library 2.0 berasal dari konsep Web 2.0 yang merupakan generasi kedua dari WWW. Web 2.0 atau participatory web menggambarkan bagaimana teknologi WWW dimanfaatkan oleh aplikasi-aplikasi yang berkembang saat ini untuk berkolaborasi oleh para penggunanya dari seluruh penjuru dunia. Aplikasi yang memungkinkan seperti itu antara lain adalah blog dan wiki. Dua aplikasi itu digunakan pengguna untuk berkontribusi terhadap isi website lain. Konsep kolaborasi dengan banyak orang inilah yang memberi inspirasi lahirnya konsep library 2.0 untuk mewujudkan participatory library service. Participatory library service artinya layanan-layanan perpustakaan yang dibangun berdasarkan masukan, evaluasi dan keterlibatan banyak orang seperti: staf perpustakaan, pimpinan perpustakaan, dan pemustaka. Perubahan yang terjadi di perpustakaan didasarkan pada masukan, evaluasi dan keterlibatan pengguna. Jadi inti dari Library 2.0 adalah bahwa perubahan berpusat pada pemustaka atau user-centered changes. Library 2.0 merupakan model untuk perubahan yang terus menerus, untuk memberdayakan pemustaka melalui keterlibatan mereka dan layanan yang berfokus pada pemustaka, dan perubahan untuk dapat menjangkau pihak lain yang berpotensi sebagai pengguna melalui layanan-layanannya. Perubahan dapat dilakukan dengan konsep library 2.0 adalah perubahan pelayanan, prosedur dan operasional lainnya. Perubahan ini bersifat terus menerus melalui evaluasi dan pembaharuan. Secara matematis library 2.0 dirumuskan seperti berikut:

Library 2.0 = (Books n stuff + people + radical trust) X participation


Dari rumus tersebut jelas bahwa konsep Library 2.0 terdiri dari tiga komponen dengan satu faktor pengali yaitu partisipasi. Tiga komponen tersebut adalah:
1. Koleksi perpustakaan
2. Orang
3. Kepercayaan radikal
Sedangkan faktor pengali yang merupakan faktor penentu adalah partisipasi. Jika kita rinci maka keberhasilan perpustakaan itu tergantung kepada partisipasi pemustaka dalam mengembangkan koleksi dan fasilitas perpustakaan, partisipasi pemustaka dalam menentukan kualitas sumberdaya manusia (dalam hal ini pustakawan) yang akan memberikan layanan kepada pemustaka, dan partisipasi pemustaka didalam membangun kepercayaan radikal kepada perpustakaan. Karena partisipasi pemustaka ini adalah sebagai faktor penentu, maka semakin tinggi nilai faktor ini, maka akan semakin tinggi hasil yang diperoleh. Sebaliknya, semakin rendah nilai faktor ini, maka semakin rendah pula tingkat keberhasilan suatu perpustakaan. Bisa dibayangkan bahwa jika partisipasi ini bernilai nol, maka sebagus apapun koleksi sebuah perpustakaan dan kualitas pustakawannya, maka tingkat keberhasilannya akan bernilai nol.
Dalam sebuah situs internet dikatakan bahwa “The heart of Library 2.0 is user-centered change. It is a model for library service that encourages constant and purposeful change, inviting user participation in the creation of both the physical and the virtual services they want, supported by consistently evaluating services.” (http://www.scribd.com/ doc/33238/Library-20-UserCentered-Change-UserCentered-Technologies).
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa akan terjadi perubahan konsep dalam pengembangan perpustakaan menyangkut hal-hal seperti berikut:
1. fisik perpustakaan dari book centred à human centred.
2. manajemen buku à manajemen informasi à manajemen pengetahuan
3. layanan user oriented à user centered
4. layanan dari right information for the right persons à right information for the right persons and right now
5.TIK yang dahulu sekedar alat ternyata memaksa perubahan pola pikir dan pola tindak pihak yang menerapkannya
6. perpustakaan 2.0 (library 2.0) yang memerlukan juga kriteria pustakawan 2.0 (librarian 2.0)
Daftar Pustaka
Manes, J.M. Teori Library 2.0 dan Dampaknya terhadap Perpustakaan. Diterjemahkan oleh Blasius Sudarsono dari Library 2.0 Theory: Web 2.0 and Its Implications for Libraries. Visi Pustaka vol. 10 (2) 2008: hal. 30 – 37.
People come first: user-centered academic library service. Dale S. Montanelli and Patricia F. Stenstrom (Editors) Chicago: Association of College and Research Libraries, 1999.
Republik Indonesia. Perpustakaan Nasional. Undang-undang Republik Indonesia nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2008.
Republik Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas RI, 2006.
Saleh, Abdul Rahman. Membangun Perpustakaan Digital. Jakarta: Sagung Seto, 2010.
Sudarsono, Blasius. Perpustakaan Dua Titik Nol: Pengantar pada Konsep Library 2.0. Visi Pustaka vol. 10 (2) 2008: hal. 9 – 14.
http://www.scribd.com/doc/33238/Library-20-UserCentered-Change-UserCentered-Technologies. Diakses tanggal 15 Juni 2010